Sabtu, 27 Juli 2013

Priyaka Irfan Astama Harsono : Atlet Muda Berbakat yang Menginspirasi

ipang3 

      Bagi sebagian anak tunarungu, dapat mendengar layaknya kebanyakan orang adalah impian terbesar dalam hidup. Tapi hal itu tidak berlaku bagi Irfan Astama, atlet taekwondo asal DKI Jakarta. Remaja bernama lengkap Priyaka Irfan Astama Harsono ini adalah salah satu atlet muda berkebutuhan khusus. Ketika mendapat kesempatan untuk Cochlear Implant, operasi pencangkokan chip untuk membantu fungsi pendengaran, Ipang (sapaan Irfan) justru menolaknya.
Operasi ini memang kelak akan mempengaruhi pola aktivitas Ipang. Ipang dituntut untuk menjauhi segala aktivitas beladiri, termasuk olahraga yang ditekuninya saat ini, taekwondo. “Ipang lebih baik seperti ini (tuna rungu), tetapi bisa terus menekuni taekwondo,” ujar orangtua Ipang, menirukan penuturan anaknya dengan penuh haru.
Anak tunggal pasangan Soni Harsono dan Ina Sumastina ini meyakinkan kedua orangtuanya, bahwa harapan terbesarnya adalah dapat terus menggeluti dunia taekwondo. Kecintaannya terhadap olahraga yang telah ditekuninya sejak usia 9 tahun ini begitu dalam. Bukan hanya hobi, tapi Ipang benar-benar menjadikan taekwondo sebagai sarana untuk mengukir prestasi. Melalui cabor asal negeri ginseng Korea ini, Ipang seakan ingin menunjukkan bahwa anak berkebutuhan khusus sekalipun, dapat bersaing dengan mereka yang memiliki fisik sempurna.
Tidak tanggung-tanggung, remaja yang memulai prestasinya sebagai atlet Kyorugi ini, menjadi atlet andalan Pengprov DKI Jakarta untuk cabang Poomsae. Bahkan atlet yang mengidolakan Grand Master Lee Kyu Hyung ini, berhasil menembus seleksi ketat tim Pelatnas Taekwondo Indonesia.
Segala prestasi yang berhasil ditorehkan Ipang, merupakan hasil kerja keras selama belasan tahun. Kepada Taekwondo Indonesia News, Soni Harsono menguraikan sepak terjang putranya merintis prestasi di cabor taekwondo. “Semuanya berawal ketika Ipang duduk di bangku sekolah dasar. Sebagai penyandang tunarungu, saya disarankan oleh psikolog untuk melatihkan olahraga sebagai media penyalur emosi bagi anak saya,” ujarnya.
Seperti diketahui, anak-anak berkebutuhan khusus memerlukan media untuk menyalurkan emosi yang cenderung temperamen. Diakuinya, Ipang pada awalnya adalah sosok yang gampang marah dan meledak-ledak. “Dia anaknya gampang marah. Tapi setelah sekian tahun menekuni taekwondo, saya melihat perubahan yang begitu signifikan pada perkembangan emosi anak saya,” imbuhnya.
Ditambahkannya, pada awalnya pilihan tidak seketika jatuh pada olahraga taekwondo. Ipang lebih dulu menggeluti beberapa olahraga seperti renang dan softball. “Namun, semua itu hanya sementara, paling lama berjalan 3 bulan. Sebelum akhirnya Ipang benar-benar cinta mati dengan taekwondo. Di sinilah Ipang benar-benar menemukan dunianya,” tukasnya.
Sejak saat itu Ipang mengukir prestasi setapak demi setapak. Di bangku SLTP, Ipang berhasil meraih juara III pada turnamen yang diadakan oleh Kedutaan besar Korea Selatan. Ipang juga dikirim mewakili Indonesia pada 7th Asia Pacific Deaf Games Seoul 2012. Meskipun tidak membawa pulang medali, namun kesempatan berharga bertanding dengan atlet-atlet kelas dunia menjadi pengalaman luar biasa untuk menambah jam terbangnya.
Selanjutnya, dalam even-even bergengsi dalam negeri, prestasi Ipang tak kalah cemerlangnya. Pada perhelatan Indonesia Open 2012, Ipang berhasil menyabet perunggu cabang Poomsae mewakili kontingen DKI Jakarta. Yang teranyar, remaja yang sekarang menginjak pendidikan menengah atas ini, berhasil membukukan emas pada ajang Maestro Cup yang baru selesai digelar bulan Januari 2013 di Bali.
Untuk agenda ke depan, Ipang sedang mempersiapkan diri menghadapi Deaflympic 2013 yang rencananya akan digelar pada bulan Juli mendatang di Sofia, Bulgaria. Atas permintaan Persatuan Olahraga Tunarungu Indonesia (PORTURIN), Ipang terpilih mewakili Indonesia untuk berkompetisi dengan ribuan atlet dari berbagai negara.
Tidak hanya jago beladiri, siswa SMK 6 Jakarta ini juga serius menekuni hobinya di bidang desain grafis. Dalam beberapa kompetisi, Ipang berhasil membuktikan kemahirannya dengan kreasi-kreasi yang membanggakan. Pada perlombaan untuk anak berkebutuhan khusus tingkat DKI Jakarta tahun 2011, dirinya berhasil menyabet titel Juara I. Sementara di tingkat nasional, ia berhasil menduduki peringkat III.
Potensi yang dimiliki anaknya ini, tidak lantas membuat Soni berpuas diri. Masa depan putranya masih sangat panjang dan ia tidak memaksakan kehendak mengenai pilihan karir anaknya kelak. “Saya tidak mengintervensi terlalu jauh, biar Ipang yang menentukan sendiri masa depannya. Tapi kalau ditanya, dia masih ingin terus berkarya di dunia taekwondo,” ujarnya dengan penuh harap.
Cita-cita besar yang ingin digapai Ipang, menurutnya, adalah mewakili Indonesia di ajang Olimpiade dunia. “Ipang adalah tipikal pekerja keras. Waktu kecil dia ingin menjadi atlet mewakili Jakarta, dan itu bisa dicapai. Lalu dia ingin ke luar negeri dengan seragam taekwondo, itupun sudah berhasil ia wujudkan. Sekarang dia sedang membangun mimpi untuk mengharumkan nama bangsa di ajang olimpiade,” tegasnya bangga.
Sebagai anak muda yang sangat aktif, ia memahami semangat anaknya yang sangat berapi-api. Tak jarang Ipang mengungkapkan keinginannya untuk dapat menyamai prestasi para Grand Master dunia. “Pernah dia berkunjung ke Kukkiwon di Korea dan bertemu beberapa grand master dunia. Harapannya, ingin mendapatkan Dan 10. Saya harap impiannya bisa terwujud,”tutupnya.
Soni juga berpesan kepada seluruh orangtua maupun atlet, terutama yang berkebutuhan khusus, untuk meraih prestasi gemilang diperlukan pengorbanan yang luar biasa. Apa yang dilalui oleh Ipang semoga kelak dapat menginspirasi anak-anak muda berbakat lainnya, agar siap bekerja keras demi mewujudkan mimpi menggapai prestasi. (vip)




 http://taekwondoindonesianews.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar