Priyaka Irfan Astama Harsono : Atlet Muda Berbakat yang Menginspirasi
Bagi
sebagian anak tunarungu, dapat mendengar layaknya kebanyakan orang
adalah impian terbesar dalam hidup. Tapi hal itu tidak berlaku bagi
Irfan Astama, atlet taekwondo asal DKI Jakarta. Remaja bernama lengkap
Priyaka Irfan Astama Harsono ini adalah salah satu atlet muda
berkebutuhan khusus. Ketika mendapat kesempatan untuk Cochlear Implant, operasi pencangkokan chip untuk membantu fungsi pendengaran, Ipang (sapaan Irfan) justru menolaknya.
Operasi ini memang kelak akan
mempengaruhi pola aktivitas Ipang. Ipang dituntut untuk menjauhi segala
aktivitas beladiri, termasuk olahraga yang ditekuninya saat ini,
taekwondo. “Ipang lebih baik seperti ini (tuna rungu), tetapi bisa terus
menekuni taekwondo,” ujar orangtua Ipang, menirukan penuturan anaknya
dengan penuh haru.
Anak tunggal pasangan Soni Harsono dan
Ina Sumastina ini meyakinkan kedua orangtuanya, bahwa harapan
terbesarnya adalah dapat terus menggeluti dunia taekwondo. Kecintaannya
terhadap olahraga yang telah ditekuninya sejak usia 9 tahun ini begitu
dalam. Bukan hanya hobi, tapi Ipang benar-benar menjadikan taekwondo
sebagai sarana untuk mengukir prestasi. Melalui cabor asal negeri
ginseng Korea ini, Ipang seakan ingin menunjukkan bahwa anak
berkebutuhan khusus sekalipun, dapat bersaing dengan mereka yang
memiliki fisik sempurna.
Tidak tanggung-tanggung, remaja yang memulai prestasinya sebagai atlet Kyorugi ini, menjadi atlet andalan Pengprov DKI Jakarta untuk cabang Poomsae.
Bahkan atlet yang mengidolakan Grand Master Lee Kyu Hyung ini, berhasil
menembus seleksi ketat tim Pelatnas Taekwondo Indonesia.
Segala prestasi yang berhasil ditorehkan Ipang, merupakan hasil kerja keras selama belasan tahun. Kepada Taekwondo Indonesia News,
Soni Harsono menguraikan sepak terjang putranya merintis prestasi di
cabor taekwondo. “Semuanya berawal ketika Ipang duduk di bangku sekolah
dasar. Sebagai penyandang tunarungu, saya disarankan oleh psikolog untuk
melatihkan olahraga sebagai media penyalur emosi bagi anak saya,”
ujarnya.
Seperti diketahui, anak-anak berkebutuhan
khusus memerlukan media untuk menyalurkan emosi yang cenderung
temperamen. Diakuinya, Ipang pada awalnya adalah sosok yang gampang
marah dan meledak-ledak. “Dia anaknya gampang marah. Tapi setelah sekian
tahun menekuni taekwondo, saya melihat perubahan yang begitu signifikan
pada perkembangan emosi anak saya,” imbuhnya.
Ditambahkannya, pada awalnya pilihan
tidak seketika jatuh pada olahraga taekwondo. Ipang lebih dulu
menggeluti beberapa olahraga seperti renang dan softball. “Namun, semua
itu hanya sementara, paling lama berjalan 3 bulan. Sebelum akhirnya
Ipang benar-benar cinta mati dengan taekwondo. Di sinilah Ipang
benar-benar menemukan dunianya,” tukasnya.
Sejak saat itu Ipang mengukir prestasi
setapak demi setapak. Di bangku SLTP, Ipang berhasil meraih juara III
pada turnamen yang diadakan oleh Kedutaan besar Korea Selatan. Ipang
juga dikirim mewakili Indonesia pada 7th Asia Pacific Deaf Games Seoul 2012.
Meskipun tidak membawa pulang medali, namun kesempatan berharga
bertanding dengan atlet-atlet kelas dunia menjadi pengalaman luar biasa
untuk menambah jam terbangnya.
Selanjutnya, dalam even-even bergengsi dalam negeri, prestasi Ipang tak kalah cemerlangnya. Pada perhelatan Indonesia Open 2012, Ipang berhasil menyabet perunggu cabang Poomsae
mewakili kontingen DKI Jakarta. Yang teranyar, remaja yang sekarang
menginjak pendidikan menengah atas ini, berhasil membukukan emas pada
ajang Maestro Cup yang baru selesai digelar bulan Januari 2013 di Bali.
Untuk agenda ke depan, Ipang sedang mempersiapkan diri menghadapi Deaflympic 2013
yang rencananya akan digelar pada bulan Juli mendatang di Sofia,
Bulgaria. Atas permintaan Persatuan Olahraga Tunarungu Indonesia
(PORTURIN), Ipang terpilih mewakili Indonesia untuk berkompetisi dengan
ribuan atlet dari berbagai negara.
Tidak hanya jago beladiri, siswa SMK 6
Jakarta ini juga serius menekuni hobinya di bidang desain grafis. Dalam
beberapa kompetisi, Ipang berhasil membuktikan kemahirannya dengan
kreasi-kreasi yang membanggakan. Pada perlombaan untuk anak berkebutuhan
khusus tingkat DKI Jakarta tahun 2011, dirinya berhasil menyabet titel
Juara I. Sementara di tingkat nasional, ia berhasil menduduki peringkat
III.
Potensi yang dimiliki anaknya ini, tidak
lantas membuat Soni berpuas diri. Masa depan putranya masih sangat
panjang dan ia tidak memaksakan kehendak mengenai pilihan karir anaknya
kelak. “Saya tidak mengintervensi terlalu jauh, biar Ipang yang
menentukan sendiri masa depannya. Tapi kalau ditanya, dia masih ingin
terus berkarya di dunia taekwondo,” ujarnya dengan penuh harap.
Cita-cita besar yang ingin digapai Ipang,
menurutnya, adalah mewakili Indonesia di ajang Olimpiade dunia. “Ipang
adalah tipikal pekerja keras. Waktu kecil dia ingin menjadi atlet
mewakili Jakarta, dan itu bisa dicapai. Lalu dia ingin ke luar negeri
dengan seragam taekwondo, itupun sudah berhasil ia wujudkan. Sekarang
dia sedang membangun mimpi untuk mengharumkan nama bangsa di ajang
olimpiade,” tegasnya bangga.
Sebagai anak muda yang sangat aktif, ia
memahami semangat anaknya yang sangat berapi-api. Tak jarang Ipang
mengungkapkan keinginannya untuk dapat menyamai prestasi para Grand
Master dunia. “Pernah dia berkunjung ke Kukkiwon di Korea dan bertemu
beberapa grand master dunia. Harapannya, ingin mendapatkan Dan 10. Saya
harap impiannya bisa terwujud,”tutupnya.
Soni juga berpesan kepada seluruh
orangtua maupun atlet, terutama yang berkebutuhan khusus, untuk meraih
prestasi gemilang diperlukan pengorbanan yang luar biasa. Apa yang
dilalui oleh Ipang semoga kelak dapat menginspirasi anak-anak muda
berbakat lainnya, agar siap bekerja keras demi mewujudkan mimpi
menggapai prestasi. (vip)
http://taekwondoindonesianews.wordpress.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar